Jadi Dosen Tamu, Presiden PKS Paparkan Peluang dan Tantangan Pemimpin Muda Indonesia

Bekasi.pks.id – Presiden PKS, Muhamad Shohibul Iman atau biasa disapa MSI menjadi dosen tamu di STIU Darul Hikmah, Yapidh, Jatiasih pada Sabtu, (25/2). Dalam gelaran “Kuliah umum Kebangsaan dan Kristologi” yang diadakan di sana MSI menyampaikan materi tentang Peluang dan Tantangan Pemimpin Muda Indonesia. Dalam kesempatan tersebut juga hadir ketua DPD PKS kota Bekasi, Heri Koswara juga para dosen.

Muhammad Shohibul Iman menyampaikan kepada anak muda aktivis dakwah terutama yang sedang menjalani masa perkuliahan agar jangan mengabaikan nilai kuliah dan peningkatan keilmuan di setiap jenjangnya. Kata dia, jika bisa hebat di dalam ruangan maka harus hebat juga di lapangan.

“Jika ingin menjadi aktivis dakwah maka jadilah aktivis berbasis kompetensi,” kata MSI saat menyampaikan kuliah umum.

Di samping itu mahasiswa sebagai bakal calon pemimpin di masa depan juga diharapkan mampu mengaktualisasikan ilmu dengan cara mempersuasi orang lain melalui kemampuan berwacana ilmiah.

“Harus biasa diskusi dan berdebat. Apalagi menghidupkan diskusi,” imbuh pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat 5 Oktober 1965.

Shohibul Iman juga menekankan pentingnya silaturahmi, dengan kata lain memperluas Networking. Ia sempat menukil pendapat seorang pakar manajemen Indonesia, Taufiq Baharuddin yang mengatakan orang yang sukses hari ini adalah orang yang memiliki networking sedari muda.

“Siapapun ketika membutuhkan sesuatu. Maka yang dia ingat adalah orang yang sering menyapanya,” sambungnya.

Anak Muda dan Politik

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia perpolitikan, lulusan Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) ini juga mengimbau para aktivis dakwah memiliki keterlibatan dalam ranah sosial politik. Ia menegaskan kepada para peserta agar jangan menjadi aktivis yang percaya begitu saja dengan hal-hal umum yang beredar cepat di masyarakat.

Selain itu, kata dia, nilai-nilai religiusitias harus terus dipupuk dan dijaga dengan terlebih dahulu berakhlak baik. Dan akhlak baik itu harus diturunkan. Anak-anak muda yang berakhlak baik dan mempunyai kapabilitas sebagai seorang pemimpin tentu ialah sosok yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat kelak.

“Namun kepemimpinan muda tidak akan muncul jika tidak ada regenerasi. Regenerasi memungkinkan peluang bagi pemimpin muda. Sebagai pemimpin, ia harus segera menyiapkan sistem regenerasi. Bagaimana sistem berjalan baik dan mampu membangun kharisma sistem. Bukan lebih banyak mengangkat diri namun mampu juga mengangkat sistem,” papar MSI.

“Pemuda harus menyiapkan diri untuk memimpin. Jangan membangun kompetensi saat memiliki posisi saja. Namun bangunlah kompetensi sejak belum memiliki posisi. Tinggikan kharisma sistem, turunkan kharisma individu untuk melahirkan regenerasi kepemimpinan,” tukasnya.

Adakah Peluang?

Peluang selalu terbuka lebar. Saat ini, kata MSI adalah kesempatan bagi kaum muda calon pemimpin masa depan untuk menempa diri.

“banyak cara, bisa dengan mengikuti Presidential Scholarship, LDPP, siapa yang berprestasi, maka akan lebih berpeluang.” ujarnya lagi.

Berbicara masalah tantangan, MSI menyatakan sekarang ini budaya yang cukup memperkeruh suasana adalah money politics. Seumpama wabah, maka bahayanya bisa merambat ke segala sektor.

“tapi kita jangan pasrah dengan budaya yang ada. Optimalkan peluang. Tantangan dan hambatan kita putar menjadi peluang, khas leadership,” katanya.

Leader

Sebagai seorang pemimpin atau leader, seseorang harus bisa mengarahkan orang pada satu tujuan yang ingin dicapai dengan berbagai cara. Ajakan, bujukan, langkah persuasif yang positif.

“Pemimpin harus mengarahkan orang pada satu tujuan yang basisnya adalah pemahaman terhadap tujuan tersebut. Elemen pentingnya adalah kemampuan untuk mempengaruhi, terutama mempengaruhi yang dipimpin. Kememampuan mempengaruhi orang lain,” sambungnya.

Secara hakikat, posisi calon pemimpin tidak terlalu berpengaruh. Namun jika ada posisi maka akan lebih mudah, karena posisi memiliki otoritas. Tapi, kata MSI, orang yang punya posisi tidak semuanya memiliki kemampuan memimpin.
“Pemimpin yang basisnya posisi function based leader namun tetap mengajak orang lain akan makin hebat jika mendapat posisi,” imbuhnya seraya membacakan arti surat Ali Imran ayat 26-27.

Terakhir, ayah dari 3 putra dan 2 putri ini menegaskan, hakikat kepemimpinan bagi seorang muslim adalah terus bekerja maksimal meskipun ia tidak berada di posisi penting, misalnya berada di posisi pimpinan. “Dia jadi pemimpin atau tidak, akan terus bekerja maksimal itulah hakikat kepemimpinan bagi seorang muslim. Kepemimpinan sekecil apapun meniscayakan sebuah proses regenerasi kepemimpinan,” pungkasnya. (Ir)

Be the first to comment on "Jadi Dosen Tamu, Presiden PKS Paparkan Peluang dan Tantangan Pemimpin Muda Indonesia"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*