Anggaran Bansos Terbatas, Dewan FPKS Mendorong Pemkot Sosialisasi Ketahanan Pangan Mandiri kepada Masyarakat

“Pemerintah Kota Bekasi harus mulai berpikir adanya terobosan baru dalam melayani masyarakat Kota Bekasi disaat pandemi Covid19,” demikian ungkap Syaifudin, Sekretaris komisi 2 DPRD Kota Bekasi, setelah melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Ketapang (Ketahanan pangan, pertanian dan Perikanan) di gedung DPRD Kota Bekasi.

Menurut anggota dewan dari Fraksi PKS ini, pemerintah kota Bekasi sudah menjalankan PSBB gelombang kedua, dan sudah menggelontorkan Bansos sembako kepada hampir 150.000 warga kota bekasi yang terdampak pandemi Covid19. Meskipun ada bantuan tahap 2 yang akan digelontorkan kembali mulai Mei ini, pemerintah perlu memikirkan langkah langkah alternatif sebagai solusi pemenuhan kebutuhan dasar (pangan) masyarakat kota Bekasi.

“Kemarin saat rapat dengan Dinas ketapang sudah saya sampaikan hal ini, dan disambut baik oleh pak Alex, Ka Dinas Ketapang,” jelasnya.

Menurut aleg PKS dari dapil 2 Bekasi Utara ini, terobosan yang dimaksud adalah gerakan masyarakat kembali menanam dan beternak secara mandiri.

“Dari diskusi saya dengan Pak Kadis bahwa masyarakat harus diajak kreatif dan tidak tergantung dengan tanaman padi saja karena kota Bekasi hanya mempunyai 300 hektar sawah,” imbuhnya.

Sebenarnya, kata Syaifudin, sudah ada program yang sangat bagus dari dinas Ketapang kota Bekasi yaitu Rumah Tanam Lestari (RTL). Namun ini kurang sosialisasi dan kurang mendapat porsi anggaran dalam APBD Kota Bekasi.

“Saya mendorong Dinas Ketapang sebagai leading sektor ketahanan pangan di kota Bekasi untuk terus mensosialisasikan Program Rumah Tanam Lestari ini secara masif sampai ke tingkat kelurahan, bahkan hingga ke RT/RW,” tambahnya.

Dengan budaya / gerakan RTL ini, diharapkan masyarakat akan mampu mencari solusi sendiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri dan masif. Setiap rumah akan berbudidaya tanaman pangan dan beternak sesuai dengan space yang dimiliki. Halaman rumah, teras, dan balkon bisa dimanfaatkan.

“Apalagi di saat pandemi Covid19, hampir semua orang WFH dan tentu banyak waktu yg bisa digunakan untuk mengatasi kejenuhan, mengeksplor hobi serta lebih produktif,” terangnya.

Banyak tanaman non padi yang bisa dikembangkan di rumah, misalnya tanam, cabe, kangkung, jahe, kunyit, umbi-umbian, jamur dan lain-lain. Baik yang dikelola secara konvensional maupun secara hydroponic / aquatic yang lbih menghemat tempat. Juga bisa dengan ternak ikan lele, mujair, atau budidaya ikan hias sekalipun. Intinya semua orang berpikir produktif.

“Di sini pula perlu didukung peran pemerintah kota dalam penyuluhan, pembinaan dan pemasaran. Program masyarakat mandiri ini cukup bagus dan bisa diberikan anggaran untuk bantuan penyuluhan serta bibit dan benih ikan nya,” terangnya.

Syaifudin menambahkan dengan adanya kemandirian pangan masyarakat semacam ini diharapkan stok kebutuhan pangan di Kota bekasi bisa tercukupi dan tidak lagi ada ketergantungan masyarakat terhadap Bansos.

Kita cukup prihatin ketika banyak masyarakat yang berharap bansos segera turun sampai menunggu beberapa minggu, belum lagi ketika bansos turun pun tidak semua mendapatkan saat itu juga. Ada yang harus antre bansos tahap berikutnya.

“Semoga dengan program RTL (Rumah Tanam Lestari) ini bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat secara mandiri untuk lebih produktif dan tidak mengandalkan bantuan sosial ketika ada masa-masa sulit.

“Ayo produktif dengan menjaga Ketahanan Pangan dimulai dari rumah masing masing secara mandiri!” ajaknya. (*)

Be the first to comment on "Anggaran Bansos Terbatas, Dewan FPKS Mendorong Pemkot Sosialisasi Ketahanan Pangan Mandiri kepada Masyarakat"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*