“Saatnya Kita Menyerang Balik”

Dunia saat ini sedang dilanda invisible war, melawan musuh yang bernama Covid-19. Hampir seluruh wilayah di muka bumi ini virus covid-19 menyebar, oleh karena itu fenomena ini dinamakan pandemi.

Data berbicara, bahwa ada 215 Negara yang terpapar Covid-19, dengan rincian;
Terkonfirmasi positif 3.595.662 dan yang meninggal sebanyak 247.652. Sedangkan untuk Indonesia, data terakhir menyebutkan yang positif terpapar sebanyak 12.438 dan yang meninggal ada sebanyak 895 orang.

Di beberapa negara dunia, mayoritas menerapkan kebijakan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini. Ada yang berhasil seperti halnya di Tiongkok dengan kota Wuhan sebagai sentral pandemi covid-19 dan juga beberapa negara lainnya.

Bagaimana di Indonesia? Indonesia menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) yang penerapannya dinilai setengah hati karena dari segi kemampuan untuk memberikan fasilitas bantuan sosial ekonomi kepada warganya, pemerintah kita tidak sanggup, disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki.

Inilah yang menjadi akar masalah ketidaksuksesan PSBB, karena bagaimana masyarakat diminta untuk #diRumahAja tapi kebutuhan mereka akan masalah perut tidak diperhatikan dengan baik. Dari segi pendataan yang amburadul, kebijakan yang tumpang tindih serta pendistribusiannya yang tidak tepat sasaran. Untuk urusan perut, masyarakat akan menempuh segala risiko agar keluarganya dapat makan, walau dihadapkan dengan ancaman tertular covid-19 itu sendiri.

Dampak covid-19 ini sangat luar biasa, apalagi kalau dilihat dari sisi ekonomi. Pengurangan tenaga kerja menjadi momok menakutkan yang saat ini dihadapi, perusahaan sudah tidak lagi mampu membayar karyawannya karena berkurangnya supply dan demand. Kita diminta untuk pasif dengan tidak berbuat apa-apa.

Mereka yang bisa WFH (Work From Home) imbas dari sisi ekonominya terasa sedikit. Bagaimana dengan jutaan rakyat indonesia lainnya yang kehidupan ekonominya ditopang secara harian? Para pedagang, buruh, pekerja lepas, jasa transportasi dan sebagainya. Mereka inilah yang paling terdampak bebannya dari sisi ekonomi.

Saat ini yang kita lakukan hanya bertahan (defend). Berbuat pasif dengan diberlakukannya PSBB, maka yang kita lakukan lebih banyak menunggu dan menunggu. Sudah saatnya kita ‘Menyerang Balik’. Berlaku aktif dengan bergerak, agar kita bisa melewati masa sulit ini dengan tidak mengorbankan sisi kebutuhan kita untuk tetap bekerja, roda ekonomi tetap berjalan, aktivitas lainnya dapat kita lakukan tapi tetap mematuhi protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Apakah semua itu bisa dilakukan?

Jawabannya, bisa. Ada contoh yang sangat konkret seperti halnya Taiwan, negara yang dari sisi geografis sangat dekat dengan China, tapi penanganan terhadap masalah covid-19 dinilai sangat sukses. Dan yang lebih hebatnya, Taiwan tidak memberlakukan lockdown atau PSBB, yang mereka lakukan adalah memberlakukan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran covid-19 ini dengan sebaik-baiknya. Mereka tetap beraktivitas dengan memegang teguh social dan physical distancing. Kantor, layanan publik, restoran, sekolah rumah sakit dsb tetap dibuka. Layanan transportasi juga tetap berjalan, tapi sosial distancingnya tetap terjaga.

Kita sudah tahu dengan berjalannya waktu kelemahan covid-19 ini. Ibaratnya perang, kita bertempur untuk maju, moving forward, bangkit, tapi tetap dengan menggunakan perlengkapan keamanan yang mumpuni. Kedisiplinan menjadi kuncinya.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kondisi wabah ini adalah, bangsa kita jadi bisa belajar lebih disiplin. Disiplin terhadap diri sendiri dan disiplin menghargai orang lain. Kalau kita disiplin menerapkan social distancing dengan baik, saya sangat yakin kita bisa. Lantas di mana peran pemerintah?

Nah, di sinilah keseriusan peran pemerintah, effort-nya jauh lebih besar dari sekedar PSBB, tapi mungkin akan jauh berkurang dari sisi pemberian anggaran subsidi yang sampai saat ini pemerintah dinilai gagal memenuhinya. Pemerintah harus dengan ketat mengawasi dan memberlakukan protokol kesehatan di area publik, seperti di pasar, pusat perbelanjaan, pabrik, lingkungan sekolah, restoran dsb. Penerapan jaga jarak menjadi hal yang utama, di samping pemberian fasilitas hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh dll.

PSBB diterapkan di perbatasan, mereka yang yang berada dalam wilayah tertentu tidak boleh keluar dari wilayahnya tanpa ada izin khusus atau mereka memenuhi standard persyaratan yang berlaku, misalnya surat bebas covid-19. Karantina diberlakukan di wilayah zona merah, atau wilayah yang memang ada warga yang positif covid-19. Sedangkan zona lainnya yang masih hijau atau kuning, mereka tetap bisa beraktivitas dengan protokol kesehatan yang ketat.
Untuk lebih jelasnya bisa dibaca dalam tautan ini https://www.disway.id/r/911/pool-test-hafidz
Gagasan brilian dari seorang alumni ITB yang diangkat beritanya di dalam kolom Dahlan Iskan.

Lantas bagaimana dengan pabrik-pabrik dengan risiko penularan yang tinggi seperti halnya yang terjadi dengan Sampoerna? sebuah pabrik rokok yang menjadi episentrum penyebaran covid-19 baru-baru ini.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi secara khusus dan panjang lebar dengan salah seorang direktur sebuah perusahaan kosmetik ternama di negeri ini, kebetulan beliau kawan baik saya dan satu almamater ketika menempuh pendidikan di ITB. Hal yang menarik yang disampaikannya adalah pabriknya tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya, tapi dia menerapkan protokol kesehatan di lingkungan pabriknya dengan sangat baik. Setiap karyawan benar-benar dijaga social distancing-nya, tempat-tempat diatur sedemikian rupa agar efektifitas dan kinerja karyawan tetap terjaga dengan tetap memperhatikan protokol keaehatan yang ada.

Inilah kunci survive perusahaannya agar mereka bisa tetap beroperasi dan karyawan tidak ada yang terkena PHK, mereka menjaga betul hal ini, di tengah kondisi yang serba sulit seperti sekarang dibutuhkan saling pengertian saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Pertanyaannya apakah dari sisi penjualan mereka terimbas? Jawabannya pasti, saat ini semua perusahaan terutama pabrik terimbas dari sisi penjualan, tidak terkecuali tapi yang harus dijaga adalah bagaimana semuanya bisa survive baik pemilik perusahaan, terlebih kepada karyawannya.

Sekarang pertanyaannya kembali kepada kita semua, maukah, atau mampukah kita bangkit dari keterpurukan ini. Jawabannya kembali kepada pilihan dari kebijakan pemerintah serta kemauan keras kita semua untuk bangkit dan menerapkan kedisiplinan protokol kesehatan. Memilih seperti taiwan atau tetap PSBB di mana dari sisi anggaran dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terkait bantuan sosial yang carut marut baik itu bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi serta pemerintah kota. Saat ini kita semua sudah merasakannya.

Note:

Ini adalah opini pribadi, berdasarkan pengalaman yang penulis sendiri rasakan ketika melakukan tugas pengawasan komisi IV terkait penanganan wabah covid-19

Bekasi, 0705292020

Latu Har Hary, S.Sn
Anggota Komisi IV – DPRD Kota Bekasi (FPKS)

Be the first to comment on "“Saatnya Kita Menyerang Balik”"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*