Ahmad Syaikhu: Jangan Berkerumun, Mari Berhimpun!

BEKASI.PKS.ID – Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat (Banjabar), H Ahmad Syaikhu hadir sebagai pembicara utama dalam Training Orientasi DPC PKS Bekasi Barat, Ahad (30/8/2020) kemarin.

Dalam kegiatan pengenalan partai kepada anggota baru yang dilakukan secara daring (online) tersebut, Ahmad Syaikhu tampil dengan presentasi berjudul, “Peran Umat dalam Politik Nasional: dari Berkerumun jadi Berhimpun.”

Pertama, Anggota Komisi V DPR RI ini menganalisis peran politik umat dalam kancah politik nasional. Ia melihatnya seperti roller coaster. Naik turun! Up and down!

“Tapi jika lebih jernih menatapnya, maka yang tampak sesungguhnya adalah pemandangan orang yang sedang berkerumun mendorong mobil mogok. Usai mobil itu berjalan, para pendorongnya pun ditinggalkan,” kata Ahmad Syaikhu.

Sampai sini, pertanyaan pun muncul. Mengapa kita tidak bersatu? “Kita tak mau bersatu karena gemar berkerumun dibandingkan berhimpun.”

Ia mencontohkan peristiwa kebakaran, kecelakaan atau perampokan. Dalam sekejap, biasanya orang-orang akan mendatangi tempat peristiwa untuk mencari tahu. Semakin lama maka jumlahnya akan semakin besar. Kerumunan besar akan tercipta, namun hanya akan bertahan dalam waktu singkat. Setelah mengetahui apa yang sedang terjadi, maka kerumunan akan sirna. Orang-orang akan pergi kembali ke rumahnya masing-masing.

Kerumunan, kata Ahmad Syaikhu, menyisakan begitu banyak persoalan.

Pertama, kerumunan terdiri dari orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda: kepentingan, kelompok, golongan, ideologi dan sebagainya. Karenanya kerumunan bersifat cair dan tak mengikat. Semuanya bisa datang dan pergi.

Kedua, agendanya bersifat jangka pendek/ad hoc. Kerumunan orang yang melihat peristiwa kebakaran hanya melihat peristiwa sesaat. Agendanya jangka pendek yaitu mencari tahu apa yang terjadi. Tak ada agenda jangka panjang atau menengah. Tak ada keinginan menganalisis penyebab dan mencari solusi agar tidak terulang.

Ketiga, kerumunan tak memiliki ikatan emosional dan spiritualitas. Karenanya kerumunan akan sangat mudah dipecah belah untuk kemudian tercerai berai.

Keempat, kerumunan tak memiliki pemimpin. Akibatnya sebuah kerumunan tak pernah beraturan.

Kerumunan seperti ini, kata Ahmad Syaikhu kerap dipertontonkan menjelang pemilihan umum. Biasanya akan mendukung satu pasangan, setelah itu bubar jalan. Agendanya singkat dan tak berkelanjutan. Sifatnya sangat pragmatis, tidak sistematis dan strategis. “Kita hanya akan disibukan dari satu isu ke isu lain. Tak memiliki platform atau blue print memajukan umat.”

Ia menekankan, kerumunan seperti ini hanya akan membuat posisi umat terpinggirkan. Tak bisa masuk ke pusat kekuasaan. Hanya mampu berteriak keras di jalan, di bundaran HI, di halaman gedung DPR, depan istana negara, tanpa mampu mempengaruhi kebijakan.

Kalaupun ada tokoh atau partai yang dianggap sebagai representasi umat, tetapi jumlahnya tak signifikan. Lebih menyedihkan lagi, sudah jumlahnya sedikit lalu asyik Masyuk dengan agendanya masing-masing.

Kondisi seperti ini mengingatkan Ahmad Syaikhu pada sabda Nabi Muhammad SAW tentang kondisi umat Islam yang akan menjadi mayoritas tetapi seperti buih yang terombang-ambing tak berdaya.

Solusi dari permasalahan ini, papar Ahmad Syaikhu, bisa berubah dengan syarat umat meninggalkan hobi berkerumun dan beralih ke berhimpun. Hal ini bisa diawali oleh para pemimpin umat. “Mari berhimpun dalam barisan.”

Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Ash Shaf ayat 4, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur. Mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Be the first to comment on "Ahmad Syaikhu: Jangan Berkerumun, Mari Berhimpun!"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*