Merespon Seruan Iman (Bagian 2 – Selesai)

seruan imanOleh Ustadz Ahmad Syaikhu

(Oleh Ahmad Syaikhu – Presiden Partai Keadilan Sejahtera)

DPDPKSKOTABEKASI – Kedua, pikiran yang cerdas. Orang yang cerdas punya pandangan yang jauh ke depan dan visioner. Ia tidak hanya memikirkan kesuksesan di dunia saja, tetapi juga memikirkan kesuksesan di akhirat. Sabda Nabi saw:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan (kosong) atas Allah”. (Sunan Ibnu Majah 4250).

Orang yang lebih mengutamakan kesenangan dunia dengan mengorbankan kesenangan dan kebahagiaan akhirat pasti orang yang tidak cerdas. Karena seberapa pun besarnya kekayaan dan kesenangan dunia yang didapatkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kesenangan dan kenikmatan di akhirat yang tak terbatas. Dalam hitungan matematika juga seperti itu.

Seberapa pun besarnya bilangan yang disebutkan jika dibandingkan dengan bilangan yang tak terbatas besarnya maka sama dengan nol.

Bahkan orang yang mengutamakan kesenangan dunia dengan mengorbankan kesenangan akhirat sangat berpotensi merugi dunia dan akhirat. Karena kekayaan dan kesenangan dunia yang dijadikan tujuan hidup itu tidak pernah membuatnya bahagia di dunia apalagi di akhirat. Ia merugi dunia dan akhirat:

ۚ  خَسِرَ  الدُّنْيَا  وَا  لْاٰ  خِرَةَ  ۗ  ذٰلِكَ  هُوَ  الْخُسْرَا  نُ  الْمُبِيْنُ

“… Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj : 11)

Pandangan yang cerdas ini akan mengarahkan usaha dan sikapnya terhadap dunia. Ia tidak pernah menjadikan dunia sebagai ukuran kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Karena itu, ia tidak pernah mencari dunia dengan cara yang haram dan tidak pernah menjadi budak dunia.

Ketiga, perasaan yang sangat peka. Perasaannya mudah tersentuh ayat-ayat yang dibacanya atau dibacakan kepadanya, sehingga imannya terus bertambah dan makin kuat di setiap saat. Firman Allah:

اِنَّمَا  الْمُؤْمِنُوْنَ  الَّذِيْنَ  اِذَا  ذُكِرَ  اللّٰهُ  وَجِلَتْ  قُلُوْبُهُمْ  وَاِ  ذَا  تُلِيَتْ  عَلَيْهِمْ  اٰيٰتُهٗ  زَا  دَتْهُمْ  اِيْمَا  نًا  وَّعَلٰى  رَبِّهِمْ  يَتَوَكَّلُوْنَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (QS. Al-Anfal : 2).

Ia memahami ayat-ayat Allah bukan hanya ayat-ayat qauliyah yang tertulis di dalam Mushhaf Al-Quran, tetapi seluruh peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah juga ayat-ayat Allah yang terbentang di hadapannya, untuk mengingatkan, mengajari, menguatkan jiwa, dan meningkatkan keimanannya.

Karena itu, saat terjadi bencana di mana pun, hatinya langsung tergerak untuk membantu dan melakukan sesuatu yang bisa dilakukannya. Kepekaan perasaannya yang telah tersibghah oleh ajaran-ajaran Islam dan tarbiyah imaniyah membuatnya bergerak cepat dan ringan membantu siapa saja yang memerlukan bantuan.

Tarbiyah imaniyah, tilawah Al-Quran dan ibadah-ibadah yang dilakukannya membuatnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Firman Allah :

وَا  عْبُدُوا  اللّٰهَ  وَلَا  تُشْرِكُوْا  بِهٖ  شَيْـئًـا  ۗ  وَّبِا  لْوَا  لِدَيْنِ  اِحْسَا  نًا  وَّبِذِى  الْقُرْبٰى  وَا  لْيَتٰمٰى  وَ  الْمَسٰكِيْنِ  وَا  لْجَـارِ  ذِى  الْقُرْبٰى  وَا  لْجَـارِ  الْجُـنُبِ  وَا  لصَّا  حِبِ  بِا  لْجَـنْبِۢ  وَا  بْنِ  السَّبِيْلِ  ۙ  وَمَا  مَلَـكَتْ  اَيْمَا  نُكُمْ  ۗ  اِنَّ  اللّٰهَ  لَا  يُحِبُّ  مَنْ  كَا  نَ  مُخْتَا  لًا  فَخُوْرَا 

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS. An-Nisa : 36).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa iman dan ibadah harus membuahkan kepekaan sosial dalam kehidupan nyata. Semoga kita termasuk orang yang merespon seruan iman. Amin… (RDK)

Be the first to comment on "Merespon Seruan Iman (Bagian 2 – Selesai)"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*