Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas yang kian meresap ke berbagai sektor. Di Kota Bekasi, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia, adopsi AI menghadirkan peluang besar untuk kemajuan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terkait dampaknya pada tenaga kerja lokal.
Di satu sisi, kehadiran AI berfungsi sebagai alat yang kuat untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan inovasi, terutama di sektor manufaktur yang mendominasi perekonomian Bekasi. Pabrik-pabrik di kawasan industri seperti Jababeka, MM2100, dan Delta Silicon mulai mengintegrasikan robotika dan AI untuk mengoptimalkan lini produksi, mengurangi kesalahan, dan menekan biaya operasional. Survei industri yang dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bekasi menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi otomasi dan AI mengalami peningkatan produktivitas rata-rata 15-20%. AI juga membuka pintu untuk personalisasi. Dalam pendidikan, misalnya, sistem AI dapat menyesuaikan materi pembelajaran sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing siswa, menjadikan proses belajar lebih efektif dan personal.
Meski demikian, ada tantangan besar yang perlu direspons. Kekhawatiran utama adalah potensi banyak pekerjaan yang tergantikan oleh otomatisasi AI, terutama pekerjaan yang bersifat repetitif. Sebuah studi dari McKinsey Global Institute (2017) dalam laporannya A Future that Works: Automation, Employment, and Productivity memproyeksikan bahwa hingga sepertiga dari aktivitas kerja di seluruh dunia bisa diotomatisasi pada 2030. Di Bekasi, di mana banyak pekerjaan bergantung pada sektor manufaktur, risiko ini sangat nyata.
Untuk menghadapi tantangan ini, peningkatan keterampilan (reskilling dan upskilling) menjadi sangat penting. Pekerja harus beradaptasi dengan mempelajari keterampilan baru yang melengkapi AI, bukan bersaing dengannya. Keterampilan seperti data science, programming, analisis sistem, dan critical thinking akan menjadi sangat relevan. Pekerja juga perlu mengasah keterampilan non-teknis seperti kreativitas, kolaborasi, dan kecerdasan emosional, yang sulit direplikasi oleh mesin.
Pemerintah Kota Bekasi, dunia pendidikan, dan sektor swasta harus berkolaborasi secara strategis untuk menyiapkan tenaga kerja masa depan. Pemerintah bisa merumuskan kebijakan yang mendukung pengembangan industri AI dan memberikan insentif untuk pelatihan keterampilan baru. Lembaga pendidikan harus memperbarui kurikulum agar relevan dengan kebutuhan industri 4.0. Sementara itu, perusahaan perlu berinvestasi dalam pelatihan karyawan mereka.
Jika dikelola dengan bijak, AI tidak akan menjadi ancaman, melainkan alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. AI bisa mengambil alih tugas-tugas yang membosankan, sehingga manusia bisa fokus pada pekerjaan yang lebih strategis, kreatif, dan berdampak. Dengan demikian, kita bisa memastikan bahwa era AI akan membawa kemakmuran yang merata bagi semua.
DPDPKSKOTABEKASI - Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Fendaby Surya Putra, B.Eng., mengeluarkan arahan kepada seluruh…
DPDPKSKOTABEKASI— Ketua Panitia Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PKS Kota Bekasi, Syafiq Fadlu Rahman, menegaskan bahwa…
DPDPKSKOTABEKASI — Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat, Heri Koswara, secara resmi membuka…
DPDPKSKOTABEKASI — Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi menjadi momentum konsolidasi…
DPDPKSKOTABEKASI — Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Fendaby Surya, menegaskan komitmen partainya untuk membangun PKS…
DPDPKSKOTABEKASI – Bidang Kaderisasi Anggota Partai (BKAP) DPC PKS Medansatria menyelenggarakan Dauroh Murobbi dengan tema…