Hapeku kembali mendendangkan sholawat, pertanda ada panggilan suara yang masuk. Aku lirik sejenak. Sederet nomer terpampang di layar. Bukan nomer yang kukenal. Aku biarkan saja sholawat itu terus berkumandang sampai dia berhenti dengan sendirinya. Saat yang sangat tidak tepat, pikirku. Sedikit lagi selesai, nih. Data binaan ini mesti selesai dikirim sekarang karena sudah hampir lewat tenggatnya.
Tak lama kemudian aku pun menarik nafas lega. Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga kewajiban yang satu ini. Sholawat kembali terdengar. Kutengok hapeku. Nomer yang tadi lagi.
Kali ini segera kuangkat dan kujawab panggilan itu.
“Assalamu’alaikum…” sapaku
“Selamat siang, Ibu,” terdengar suara di seberang sana. Aku merasa seolah ini suara mesin penjawab otomatis. “Kami ingin mengabarkan bahwa ada barang yang harus diambil di Kantor Pos. Jika ingin mengetahui detilnya, silakan tekan angka 8.”.
“Wah, PKS, nih”, demikian pikirku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menekan angka 8. Sejenak kemudian, terdengar suara, “Selamat siang…” lalu tiba-tiba hanya ada kesunyian.
Aku tunggu sejenak, tapi tak ada lagi suara. Aku cek sinyal. Ternyata memang tidak ada tandanya. Signal Lost. Mungkin nanti akan ada yang menghubungi lagi, pikirku. Jadi aku kembali ke aktiivitas-aktivitas rutin yang sudah menungguku.
-o0o-
Ketika hendak menyapu ruang perpustakaan, kulihat suamiku sedang asyik dengan laptopnya. Sebuah sentuhan lembut di bahunya sudah cukup membuat dia sadar bahwa bidadarinya tengah hadir di sisinya. Dia mengangkat wajahnya. Tangannya diangkat dari keyboard, lalu bertanya, “Ada apa, Mi?” ujarnya.
Segera saja kupergunakan kesempatan untuk menceritakan kejadian tadi. “Kira-kira barang apa, ya, Bi?” tanyaku pada akhirnya setelah menceritakan kejadian tadi, dua atau tiga kali.
“Tumben,” komentarnya tanpa menjawab pertanyaanku. “Biasanya pakai jasa kurir, Mi.”.
“Lah, Abi gimana, sih? Ini bukan Umi yang kirim. Umi terima kiriman. Kalau Umi yang kirim memang pakai jasa kurir, tapi ini ’kan bukan Umi yang ngirim,” aku menegaskan sekaligus menjelaskan lagi, khawatir pikiran suamiku ini masih tenggelam dalam laporan yang sedang ditulisnya tadi. Laki-laki memang tidak bisa memikirkan banyak hal sekaligus. Tidak bisa multitasking!
Abi mengangkat kedua tangannya, lalu bertanya, “Siapa yang mengirim barang itu?”.
“Eh, pertanyaaan macam apa, nih?” pikirku.
“Umi gak tahu, Bi. Kan udah keburu putus teleponnya. Kalau Abi mendengarkan cerita Umi, pasti Abi udah faham,” kritikku keras.
Abi tidak menanggapi kritikku. Dia malah bertanya lagi, “Ada teman Umi yang bilang mau kirim barang?”.
“Nggak ada, Bi,” jawabku cepat, ”Kalau ada yang bilang-bilang, pasti Umi suruh pakai jasa kurir langganan Umi.”.
Suamiku kembali menekan-nekan keyboard laptopnya. Kejadian biasa. Pasti ada ide yang melintas di kepalanya, yang harus segera dituliskannya. Pembicaraan kami terbiasa terjeda beberapa waktu gegara ide.
Sesaat kemudian Abi berhenti sejenak lalu berkata, “Linknya udah kukirim di grup keluarga, ya.”.
“Kirim link apa?” pertanyaan blunder!
Suamiku menarik kursinya agak ke belakang. Dia menaruh kedua tangannya di belakang kepala, lalu mulai bicara. “Jadi, tadi Abi browsing di internet. Cari tahu soal panggilan telpon yang menyuruh kita menekan tombol tertentu…”.
Aduh… seperti biasanya cerita Abi akan berkepanjangan, nih. Sementara aktivitas harian masih banyak yang menunggu. Aku bersegera menghentikannya. “Iya, iya, deh. Nanti Umi baca kalau udah sempat,” dan aku pun segera menghilang dari hadapannya.
-o0o-
Sesegera mungkin kusempatkan membaca link yang dikirim Abi. Ternyata link itu berisi laporan tentang kejadian penipuan. Ringkasnya ada penelepon yang memberitahu tentang barang yang perlu diambil. Penerima telepon itu kemudian diberitahu berbagai macam hal, yang ujungnya dia harus mengirimkan sejumlah uang ke rekening tertentu agar barang itu bisa diambil. Ternyata itu hanya penipuan karena barang yang katanya harus diambil itu sama sekali tidak ada.
Alhamdulillah. Aku bersyukur karena tehindar dari aksi penipuan.
Saat itu Abi lewat di depanku. Dia melirik sedikit ke hapeku dan rupanya mengerti bahwa aku telah membaca link yang dikirimnya.
Tak dinyana, sambil lewat dia berkomentar, “Tetaplah kritis, tapi jangan cuma sama suami aja.”.
Mau dicubit, dianya sudah keburu menghilang.
Ditulis oleh : Neneng Arfiani HR dan Toto Abi Ihsan
DPDPKSKOTABEKASI - DPC PKS Medan Satria menggelar kegiatan halal bihalal yang berlangsung meriah dan penuh…
DPDPKSKOTABEKASI.ID- – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, PKS Kota Bekasi menggelar kegiatan Tarhib…
DPDPKSKOTABEKASI - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Medan Satria menggelar Rapat…
DPDPKSKOTABEKASI - Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Fendaby Surya Putra, B.Eng., mengeluarkan arahan kepada seluruh…
DPDPKSKOTABEKASI— Ketua Panitia Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PKS Kota Bekasi, Syafiq Fadlu Rahman, menegaskan bahwa…
DPDPKSKOTABEKASI — Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat, Heri Koswara, secara resmi membuka…