“Tok tok tok…” Kuketuk pintu kamar anak bungsuku berulang kali “Bang.. Babang Ihsan..!” aku coba memanggil, “Sudah azan, bang, ayo ke masjid bareng Abi.”.
Suamiku sudah berwudu dan mengenakan sarungnya. Siap untuk berangkat ke masjid. Eh, tpi dia malah duduk di bangku dekat meja makan.
“Kok ga langsung berangkat, Bi? Nungguin Ihsan?” tanyaku. Aku tak memperhatikan gelengannya, dan meneruskan pembicaraanku, “Si bontot ini sih, ga usah ditungguin. Biar nanti nyusul aja sendiri.”.
“Ga, kok, tunggu sebentar aja, toh cuma nyeb,erang jalan,” katanya.
Aku memperhatikan kondisi suamiku. Sudah rapi dan ganteng. Sudah pakai sarung, baju koko dan peci. Pastinya sudah berwudhu. Jadi seharusnya sudah bisa langsung berangkat ke masjid, “Ini sebenarnya nunggu apa, sih, Bi?” tanyaku.
My hun nyengir, “Nunggu komat” katanya.
“Bukannya lebih baik nunggu komatnya di masjid?” tanyaku
“Kalau nunggu di masjid, suka disuruh jadi imam.” Jawabnya lagi
“Bukannya bagus jadi imam?” tanyaku lebih dalam “Banyak pahalanya, kan?”
Suamiku menggeleng, “Bacaanku kurang bagus. Masih banyak yang lain yang lebih bagus bacaannya. Tapi mereka suka sungkan kalau ada aku. Soalnya, umur aku kan paling banyak,” katanya lagi.
Dalam hati aku berkata, “Nah, itulah perlunya belajar Tahsin, biar bacaannya bisa lebih sempurna”, tapi aku tidak segera menyuarakannya karena teringat si Bontot belum juga menunjukkan tanda-tanda akan keluar kamar.
Saat masih sibuk mengetuk-ngetuk pintu kamar si Bontot, Nurul, anakku yang kedua datang mendekat. “Dibuka aja pintunya, Mi. Barangkali dia pakai headset, jadi ga dengar Umi ketuk-ketuk pintu,” sarannya.
Aku pun mencoba membuka pintu kamar itu, ternyata memang tidak dikunci. Di dalam kulihat Ihsan sedang asyik main game, dengan headset di telinganya. Kuhampiri dia lalu kucolek pipinya. Dia langsung bereaksi mengangkat headset di telinga kanannya. “Ada apa, Mi?” tanyanya.
“Sudah adzan dari tadi. Ayo wudhu terus berangkat ke masjid sama Abi,” kataku.
“Azannya udah lama, Mi?” tanyanya.
“Udah agak lama, tapi belum komat,” kataku.
Nurul menyela, “Udah komat kayaknya, Mi. Abi udah berangkat.”.
Aku berpaling menyelidik. Kulihat kursi yang tadi diduduki suamiku sekarang sudah kosong. Yah, pastinya sudah komat.
Dengan agak enggan kulihat Ihsan bangkit lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Nurul bertanya, “Betewe, Mi. sebenarnya kenapa Abi suka menunggu komat di rumah, sih? Apa karena masjidnya dekat?” rumah kami memang hanya berjarak lima atau enam langkah dari masjid.
“Katanya kalau nunggu komat di masjid, Abi sering diminta jadi Imam. Padahal Abi gak mau jadi Imam, karena bacaan kurang bagus,” kataku menjelaskan.
Nurul masih terdiam, berfikir keras. Akhirnya dia berkata, “Tapi ini, kan salat Zuhur, Mi”.
Dan kebingungan pun menular.
DPDPKSKOTABEKASI - DPC PKS Medan Satria menggelar kegiatan halal bihalal yang berlangsung meriah dan penuh…
DPDPKSKOTABEKASI.ID- – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, PKS Kota Bekasi menggelar kegiatan Tarhib…
DPDPKSKOTABEKASI - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Medan Satria menggelar Rapat…
DPDPKSKOTABEKASI - Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Fendaby Surya Putra, B.Eng., mengeluarkan arahan kepada seluruh…
DPDPKSKOTABEKASI— Ketua Panitia Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PKS Kota Bekasi, Syafiq Fadlu Rahman, menegaskan bahwa…
DPDPKSKOTABEKASI — Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat, Heri Koswara, secara resmi membuka…