Matahari hampir mencapai ubun-ubun. Imat melihat Amatmasih di serambi musola. Nampaknya ada yang ditunggunya. Berkali-kali Amat duduk-berdiri-duduk sambil matanya nyalang menatap pintu pagar musola.
“Ente lagi ngapain, Am?” tanya Imat
Amat menoleh sebentar lalu kembali memantau pintu sambil menjawab, “Nyari orang yang mau ngajak makan.”
Imat nyengir. Dia meraba-raba saku celananya. “Udah mau Zhuhur. Nanti aja abis shalat. Insya Allah bakal ada yang nraktir, dah!”
“Mesti sekarang.” Tukas Amat. Dia menepuk-nepuk perutnya. “Belum diisi dari pagi, nih.”
“Lha, ente sibuk banget sampe belum sempat makan.” Kata Imat takjub. “Ada kerjaan apa?”
“Ya, ini…” kata Amat singkat. “Nyari yang mau ngajak makan”
Imat melihat jam dinding. Sudah waktunya azan. Dia berpaling hendak masuk ke musola. “Kita shalat aja, dulu. Nanti Insya Allah ane traktir.”
“Emangnya ente ada duit?” tanya Amat dengan nada meremehkan.
Imat merogoh saku celananya kembali lalu mengacungkan dua lembar uang duapuluhribuan. “Ada, nih.” Katanya sambil nyengir.
Dengan sigap Amat menyambar selembar uang itu, lalu bergegas keluar musola.
“Eh, shalat dulu!” seru Imat.
Amat menghentikan langkahnya. “Udah laper, nih. Nanti malah ga khusyu shalatnya. Daripada shalat mikirin makan, mending makan mikirin shalat”. Dia pun berlalu.
Imat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
-o0o-
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (Al Mukminun (23) : 1-2)
-o0o-
Oleh Toto Abi Ihsan





Be the first to comment on "Mikirin Salat"