PKS Jakasampurna, Saya Belum Punya Motor Waktu Itu…

ilustrasi/Facebook DPD PKS Kota Bekasi

Dulu waktu saya bergabung dengan DPRa PKS Kelurahan Jakasampurna Bekasi Barat, seingat saya kepengurusannya belum ada. Masih bergabung dengan DPRa PKS Kelurahan Kranji. Sampai suatu hari Pak Gi datang ke rumah mertua saya di Jalan Demak. Ia datang memberikan informasi mau ada pemilihan ketua DPRa Jakasampurna di Balai Rakyat.

“Di mana itu, pak?”

Pak Gi memberikan penjelasan, tapi saya gak ngerti lokasinya. Maklum orang baru.

Baru tinggal di Bekasi dan nggak punya motor. Tapi saya ya yo saja sambil manggut-manggut sampai Pak Gi pamit.

Singkat cerita saya nggak datang ke acara ‘super penting’ itu. Tentu saya juga gak tahu dinamikanya! (ups, salah po bener, sih, istilahe?)

Terpilihlah pak Samsudin jadi ketua DPRa waktu itu. Periode selanjutnya, berturut-turut terpilihlah Pak Yahya, Pak Dedi dan terkini Pak Hamzah. Semua orang ini datang dari berbagai profesi, asal-usul dan karakter.

Di rentang waktu itu sampai kini, DPRa PKS Jakasampurna terus eksis. Terlepas dari perbedaan karakter, gaya, sifat, sikap, latar belakang pendidikan, keilmuwan, hobby, tempat dan tanggal lahir ketua DPRa-nya, kegiatan-kegiatan berjalan sebagaimana mestinya.

Tentunya bukan sikap yang bijak, membanding-bandingkan satu ketua DPRa dengan ketua DPRa yang lain. Menghebatkan yang satu dan mencemooh yang lain, dan sebagainya.

Bahwa ada ‘warga’ DPRa yang lebih cocok dengan salah satu dari mereka, itu hal yang wajar. Tapi bukankah itu soal pribadi? Yang nggak pantas untuk menjadi ‘konsumsi publik’?

Setiap ketua DPRa, bisa jadi beda dalam gaya memimpin. Dalam mengambil kebijakan.
Tapi selama kebijakannya tidak melanggar syariat, hukum, etika, dan sebagainya. Itu haknya mereka masing-masing. Warga DPRa hendaknya melihat sebagai kebijakan DPRa, yang sebaiknya didukung. Semua bergerak, berjalan dalam kebersamaan. Guyub rukun.(apa yo ngono tah, rek?)

(terus opo neh, yo…)

Bahwa satu rezim DPRa lebih bagus, lebih maju dari rezim yang lain, itu mungkin saja. Tapi bukankah kata iklan, ‘no body is pefect?’ Jadi ya no rezim perfect-lah.

Kelebihan dan kekurangan selalu ada. Biasa aja. Woles. Ga usah banding-bandingin, nyinyir-nyinyirin, nyindir-nyindirin, de-el-el.

Jadi setiap warga DPRa sebaiknya mengutamakan kebersamaan, biar DPRa tetap eksis. Menaati kebijakan ketua DPRa sebagai kebijakan bersama dan membuang jauh sikap like n dislike, sama ketua DPRa nya.

Bukankah Allah SWT akan membersamai orang-orang yang ada dalam jamaah?(maaf kagak hafal dalilnya…)

Kalau setiap kita gak mau berlapang dada, dan terus menerus mmbusungkan ego: merasa paling pintar, paling benar, kalau bukan si doi gua gak mau, dsb,…ape kate dunye..?!

No Body is Perfect!

Jakasampurna, Jumat malam 13 Juli 2018

Eko

Be the first to comment on "PKS Jakasampurna, Saya Belum Punya Motor Waktu Itu…"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*