Minta Tolong Dukun

Dukun

Kulihat My Hun masih berjuang mengikatkan tali sepatunya. Gerakannya tidak selincah dulu. Mungkin karena faktor “U” (umur) atau mungkin juga karena faktor “L” (lemaknya kebanyakan).

Akhirnya dia berhasil juga. Aku pun segera menanyakan pertanyaan yang tadi kutahan. “Pagi ini rute jalannya ke mana, Hun?” aku memang biasa menyerahkan rute jalan pagi kami kepadanya, jika tidak ada agenda khusus.

“Ambil kiri aja. Nanti turun ke kiri lagi di perempatan pertama, lewat praktek dukun, Wisma, te,mbus Perum, Al Huda Bintan, belok ke Istiqomah terusnya terserah mau langsung balik atau mau lanjut nyusur Wisma,” kata My Hun. Semua nama yang disebutkannya familiar buatku, kecuali satu.

“Emang ada praktek dukun?” tanyaku.

“Ada, kan kamu juga pernah minta tolong ke sana,” kata My Hun.

Eh, apa iya? Rasanya gak mungkin aku pergi ke tempat praktek dukun. Buat apa? Buat dapat kursi? Ga mungkin! Jadi Caleg bukan semata cari kursi buat aku pribadi, kok. Ini kan bagian dari tugas dakwah. Lah, masak iya dakwah pakai acara minta tolong dukun?

Aku tidak memperpanjang masalah. Aku tahu, kalau My Hun sudah berkata dengan yakin, hanya ada dua kemungkinannya. Pertama memang begitu keadaannya. Kedua, dia mau nge-prank. Nah, aku mesti siap-siap aja, lahir batin, terutama buat kemungkinan kedua ini.

Jadilah kami bersegera berangkat. My Hun lebih sering berjalan di belakangku sambil merekam jalan-jalan yang kami lewati dengan foto atau video. Rekamannya itulah yang sering aku gunakan di status WA-ku.

Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara, tapi aku selalu waspada mengingat tempat praktek dukun yang My Hun sebutkan tadi.

Tetapi, sampai perjalanan kami berakhir dan kami kembali ke rumah, aku tak menemui tempat praktek dukun itu. Jelaslah bahwa ini salah satu model prank-nya. Jadi, aku pun menegurnya dengan perasaan menang. “Nah, terbukti, kan. Tempat praktek dukunnya tidak ada. Berarti aku ga pernah minta tolong ke dukun itu, kan?”

“Eh, ada, kok. Tadi kita lewatin,” kata My Hun tidak mau disalahkan dan dikalahkan.

“Ga ada bukti,” kataku yakin.

“Ada,” tukasnya. Lalu disodorkannya sebuah foto di HP-nya. Melihat foto itu, aku jadi mengerti bahwa apa yang dikatakannya benar. Bahkan juga benar aku pernah minta tolong di tempat praktek dukun itu.

(Oleh Neneng Arfiani HR dan Toto Abu Ihsan)

Be the first to comment on "Minta Tolong Dukun"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*