BERITA TERKINI

UMKM dan Andalan Geliat Ekonomi Pasca Pandemi

DPDPKSKOTABEKASI – Geliat ekonomi pasca pandemi Covid-19 ini banyak mengandalkan sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Karena itu, apapun caranya kita semua harus bisa mengerahkan daya, upaya, perhatian dan bahkan dana untuk mendorong bangkitnya UMKM.

Salah satu upaya itu, Rabu (27/10) telah kami lakukan pelatihan bagi sekitar 80 pengusaha UMKM di Kota Bekasi. Dengan menggandeng Bank Mandiri dan beberapa motivator, termasuk ahli digital dan marketing.

Saya bangga acara bisa berjalan baik. Peserta pun happy.

Ada empat masalah besar UMKM di mana-mana, termasuk di Kota Bekasi.
Pertama masalah permodalan, kedua marketing, ketiga inovasi produk dan keempat network alias jaringan.

Keempat ini adalah masalah mendasar yang banyak menjadi ganjalan pertumbuhan UMKM.

Modal bisa jadi disediakan pemerintah melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang disalurkan via bank. Nah masalahnya apakah usahanya sudah bankable? Ternyata sebagian besar UMKM kita masih dalam kategori belum.

Begitu juga marketing. Di era digital, marketing sangat terbuka untuk diakses melalui media. Tapi apakah UMKM kita sudah familiar dengan yang namanya digital marketing.

Ini tantangan yang membutuhkan peran pemerintah untuk membantu melatih mereka.

Sementara produknya memang masih banyak yang asal-asalan. Belum memperhatikan bagaimana mereka menampilkan yang tidak hanya enak, tapi juga indah dilihat dan kemasan yang punya daya tarik tinggi.

Networknya, mereka membutuhkan forum yang bisa senantiasa saling berbagi informasi, berbagi peluang dan saling menopang.

Networking dalam berbisnis itu sama pentingnya dengan modal.

Bekasi pernah berjaya dengan berbagai industri kecilnya. Misalnya di Bantar Gebang dan Setu, daerah yang memiliki banyak bahan baku bambu pernah terkenal sebagai sentra kerajinan perabotan bambu. Hampir setiap rumah di daerah ini adalah pengrajin alat rumah tangga dari bambu.

Yang saya sayangkan spirit produksi dan jaringan itu kini tak lagi berbekas.
Atau di daerah Jatirahayu. Daerah ini pernah dikenal sebagai sentra perhiasan imitasi. Saat itu mereka bisa ekspor aneka perhiasan imitasi. Semboyannya sederhana, “Emas aslinya untuk disimpan, imitasinya dipake sehari-hari sebagai hiasan”. Sentra industri ini juga tak lagi berbekas.

Di Lemahabang, juga pernah dikenal dengan merk sepatu Spartan alias Sepatu Pasir Tanjung. Sepatu ini diproduksi rumahan di desa Pasir Tanjung. Juga ada produksi boneka di Lemahabang yang bahan bakunya dari limbah pabrik. Kini para pengrajin ini tak lagi mewarisi tradisinya.

Atau di Muaragembong dan Babelan. Ada kerajinan rakyat pembuatan tas, tikar dan lain-lain yang bahannya dari eceng gondok. Juga ada produksi olahan hasil laut.

Dalam pendampingan LSM, produk mereka dibantu pemasarannya sampai bisa ekspor.

Di Kranji, dikenal sebagai daerah sentra ikan hias. Bahkan di Rawalumbu sudah dibuatkan pasar ikan hias yang sedianya dijadikan pusat transaksi antara petani dan pembelinya. Tapi pasar ikan hias Rawa Lumbu tampaknya tidak lagi fokus di ikan hias.

Al hasil, membangun ekonomi orang Bekasi saat ini peluangnya banyak dari sektor UMKM.

Yang trendy saat ini adalah produk makanan, minuman dan pakaian.
Kalau sebelumnya masyarakat ini sudah memiliki etos produksi yang kuat, semestinya dari sinilah upaya membangun usaha ini dimulai.

Memang wajah UMKM kini berbeda dengan yang dulu-dulu itu.

Di Kemang Pratama misalnya, sentra kulinernya sudah menjadi destinasi tersendiri. Di sana ada kopi, bubur dan aneka pilihan makanan enak, unik dan khas.

Atau maraknya kafe-kafe dan warung kopi di banyak sudut dan jalan saat ini, memungkinkan untuk dibina sesuai kebutuhan.

Misalnya mereka dikondisikan untuk menciptakan sentra kopi dengan aneka kreasi yang bisa mengundang minat orang mengunjunginya.

Bagi bisnis UMKM, produk boleh berubah. Jenis bisnis bisa tidak sama. Tapi spirit enterprenershipnya yang bisa dikembangkan untuk menumbuhkan usaha itu.

Sementara peran pemerintah sebagai pemegang regulator ada di posisi memudahkan, melancarkan, membantu, mengayomi dan memperluas. Bukan malah membuat semakin sulit dengan berbagai regulasi yang tidak urgen. (Dikutip dari Radar Bekasi)

Oleh : Ketua DPD PKS Kota Bekasi, H. Heri Koswara, M.A.

adminhumaspks

Recent Posts

Sabet Award di Jogja, DPD PKS Kota Bekasi Raih Penghargaan Pengelolaan Media Sosial Terbaik Jawa Barat

DPDPKSKOTABEKASI – DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi  mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat Jawa…

3 hours ago

Komunitas Senam Fun Family Medan Satria Gandeng Primaya Hospital Bekasi Timur Gelar Senam Sehat dan Cek Kesehatan Gratis untuk Lansia

DPDPKSOTABEKASI - Komunitas senam Fun Family Medan Satria kembali menggelar kegiatan olahraga bersama yang dirangkaikan…

1 week ago

Ketua DPD PKS Kota Bekasi Fendaby Surya: LATANSA Bentuk 1.000 Kader Perempuan Tangguh Bela Negara

DPDPKSKOTABEKASI – Sebanyak 1.000 kader perempuan PKS se-Kota Bekasi mengikuti Latihan Dasar Kader Perempuan (LATANSA)…

2 weeks ago

DPW PKS Sumbar Belajar Tata Kelola Pendanaan Partai ke DPD PKS Kota Bekasi

DPDPKSKOTABEKASI – DPD PKS Kota Bekasi menerima kunjungan studi banding yang diikuti 20 pengurus Tim Bendahara…

2 weeks ago

Bendahara DPD PKS Kota Bekasi Ii Marlina: LATANSA Jadi Ruang Pembinaan

DPDPKSKOTABEKASI - Bendahara DPD PKS Kota Bekasi, Hj. Ii Marlina, S.Pd., menekankan pentingnya membangun ketangguhan…

2 weeks ago

Bingo Sehat Keluarga Medansatria Semarakkan Hari Keluarga Nasional dengan Semangat Kebersamaan

DPDPKKOTABEKASI  - Hangatnya kebersamaan terasa menyelimuti Taman Meli-Melo, Harapan Indah, Bekasi, pada Minggu (28/6). Sekitar…

1 month ago