Awalnya, seruan di Grup WA untuk mengikuti Aksi Simpatik “Selamatkan Kemanusiaan di Gaza” mendapat perhatian yang biasa saja. Meski disampaikan kurang dari seminggu sebelum waktu aksi, tidak terdeteksi keriuhan di grup WA. Mungkin karena para anggota grup sudah terbiasa dengan aksi-aksi semacam ini.
Grup WA Yang Ramai
Tensi percakapan mulai meningkat kala sore hari ba’da ‘Ashar diumumkan bahwa Lokasi aksi dipindahkan dari area Patung Kuda – Monas ke JIExpo Kemayoran! Waktunya kurang dari 24 jam sebelum acara!
Pertanyaan pertama yang muncul di grup WA, berkenaan dengan transum (transportasi umum) yang bisa digunakan untuk sampai ke Lokasi acara. Anggota yang sudah cukup akrab dengan KRL (Kereta Rel Listrik – Commuter Line) segera menanggapi dengan menyebutkan stasiun terdekat dari lokasi acara, dengan tetap menyisakan alternatif pilihan: Kemayoran atau Rajawali.
Pembicaraan lalu berkembang ke berbagai masalah teknis lainnya, dari stasiun ke titik lokasi naik apa? Atau, apakah bisa ditempuh dengan jalan kaki? Berapa lama perkiraan waktu tempuh? Dan sebagainya.
Tanpa dikomando pun, para anggota yang punya pengalaman ataupun pengetahuan tentang cara untuk sampai ke tempat acara menyumbangkan ide atau pengetahuannya. Ada yang istrinya berpengalaman puluhan tahun menjadi pelanggan kereta menjelaskan dengan rinci, dari stasiun mana seharusnya berangkat, jam berapa, turun di stasiun mana dan melanjutkan perjalanan dengan cara apa. Ini masih juga ditambahi pengalaman anggota lain yang memberi referensi bagi anggota yang akan membawa anak-anak kecil. Ada juga yang menyengaja googling lalu menshare hasilnya.
Ada lagi anggota, yang lebih sering mengendarai motor, mengajak untuk berangkat bersama: konvoi menggunakan motor. Tentu saja ajakan ini dilanjutkan dengan pengajuan rute-rute tercepat. Pesan-pesan tentang rute itu diselingi juga dengan celetukan humoris. Misalnya saat ada yang menunjukkan rute naik motor “… lurus saja.. tinggal belok kanan di sini, lalu belok kiri di situ…” lalu disela komentar pendek: “cuma dua kali belok…”
Dan keriuhan pun berlanjut hingga larut malam.

Polemik WA
Pagi harinya, sebelum Subuh, sudah ada info terbaru. Masih tentang tatacara menuju Lokasi acara tapi dengan rincian yang lebih mantap.
Segera setelah Subuh berlalu, grup WA diramaikan kembali dengan laporan posisi masing-masing. Ada yang sudah standby di stasiun, ada yang baru berangkat dri rumah masing-masing, ada yang berombongan menggunakan kendaraan roda empat, ada lagi yang memposting video saat rombongan konvoi motor sampai di lokasi parkir.
Keriuhan di grup WA saat aksi bela Palestina khususnya Gaza ini, tetiba menyulut ingatan tentang polemik penggunaan WA terkait dengan boikot yang dilakukan terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israhell. “Barang-barang terafiliasi Israhell diboikot, kok lo masih pake WA?” kira-kira begitu sentilan yang pernah terlontar.
Tentu saja di satu sisi hal itu menggambarkan kepedulian, agar bisa menunjukkan totalitas dalam memboikot produk-produk yang memberikan sumbangan bagi penghancuran Palestina, khususnya Gaza. Tapi jika WA ini banyak digunakan dan menjadi alat bertukar informasi yang diperlukan, apakah ada sisi pengecualian?
Pertama, tentu saja perlu diingat bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak pernah secara spesifik menyebutkan produk apa saja yang diboikot saat MUI menetapkan Fatwa Nomer 83 tahun 2023. MUI hanya mengimbau umat Islam untuk menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israhell sebisa mungkin
Sementara itu, dalam sirah pernah dikisahkan bahwa Rasulullah SAW bekerja sama dengan orang kafir.
Saat hijrah dari Mekkah ke Yatsrib, dikisahkan bahwa Rasulullah Saw mengambil Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan. Abdullah bin Uraiqith ini seorang kafir.
Ketika mensyarah hadits yang berisi kisah Abdullah bin Uraiqith menjadi penunjuk jalan ini, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya dan tidak terpengaruh akidah mereka yang rusak, juga boleh bergabung dalam muamalah antara mereka.
Korelasi antara episode dalam kisah hijrah Rasulullah SAW dengan WA adalah: ada manfaat yang besar yang bisa diambil dari adanya WA. Dan manfaat ini belum bisa diperoleh dari app lain yang (sebetulnya) tidak terafiliasi Israhell. Maka ada celah justifikasi untuk menggunakan WA.
Cubitan Samar
Postingan di grup WA masih saja ramai, bahkan saat siang menjelang sore setelah acara selesai. Banyak link berita disisipkan. Diantaranya ada yang bercerita tentang lika-liku perjalanan menuju JIExpo. Ada juga yang bercerita tentang kesungguhan para anggota dari berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam acara ini: ada yang tetap berusaha datang dengan kondisinya sebagai penyandang disabilitas. Ada pula yang tak bisa hadir ke lokasi acara, tapi menyempatkan diri menyiapkan perbekalan bagi saudara-saudaranya yang berangkat.
Apa pun yang bisa dilakukan, tetap dilakukan. Sesuai kemampuan. Yang penting berbuat. Yang penting tetap bersuara. Tetap terdengar meski banyak pihak tak (mau) mendengar.
Pemahaman ini serasa memberikan cubitan samar di relung-relung hati.
Begitu banyak postingan pesan di Grup WA, tapi tidak satu pun pesan kubuat. Tidak juga komentar. Bahkan sekedar reaksi atas potingan pesan anggota lain.
Sebersit perih pun menyapa.
Mengirim satu postingan saja tidak mampu, jangan lagi menulis laporan pandangan mata, rilis artikel atau pun ficer. Padahal biasanya jemari ini rajin dan lincah menari di atas keyboard.
Sementara orang lain berbuat sebesar kemampuannya, bahkan saat terlihat tak mampu pun, tetap berbuat.
Sejenak ada kekhawatiran.
Bila kemampuan yang biasa ada, sekarang tiada. Saat sebenar-benarnya kemampuan itu harus ditunjukkan, dia menghilang. Bukankah itu pertanda bahaya? Bahayanya, bisa jadi cubitan samar akan berubah jadi musibah-malapetaka. Atau lebih tragis lagi: jadi azab yang dibayar di muka. Na’udzubillah.
Hatiku pun berteriak lantang. Segeralah duduk di depan laptop! Paksakan jemarimu melangkah! Beberapa kata sebagai pemantik barangkali cukuplah.
Bismillah.
#PKSBersamaGaza
#HumanityForGaza
Oleh : Tto





Be the first to comment on "Keriuhan Grup WA dan Cubitan Samar dari Gaza"