Abi Ihsan rada kaget ngelihat Amat lagi beberes alat-alat kebersihan musola menjelang Zuhur. “Alhamdulillah… Am, tumbenan, nih! Lagi ada acara ape?” Tanya Abi Ihsan

“Lah, biase aje, Bi.” Kata Amat sambil melengos.

“Biasenye kan, yang beberes si Imat.” Kata Abi Ihsan lagi.

“Bagi-bagi tugas, Bi. Imat mau azan bentar lagi.” Kata Amat.

“Imamnye, siape? Kan Ustadz Noer lagi Umroh.” Tanya Abi Ihsan

Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ga tahu, Bi. Tapi tadi Haji Murat ama Wa Baong udeh dateng, sih.”

“Wah, jangan Wa Baong, deh. Entar kelamaan salatnye.” Kata Abi Ihsan.

Mendengar itu, Amat cuman bise nyengir.

Sesaat setelah Imat selesai azan, Amat pun masuk ke ruangan utama musola. Dilihatnya Wa Baong sedang memberi isyarat kepada Haji Murat agar maju menjadi Imam. Haji Murat nampak menolak. Ditunjuknya lehernya sambil mengeluarkan suara serak-serak becek, “Ane lagi batuk. Yang laen aje.” Kemudian disambung dengan suara, “Uhuk..uhuk…”

Mata Wa Baong segera beredar. Dilihatnya Imat sudah berdiri memegang mik, bersiap untuk melantunkan iqomah. Tatapan Wa Baong pun bentrok dengan pandangan mata Amat. Segera saja Amat mengangkat kedua tangannya.

“Jangan… Jangan ane… Ade yang lebih berhak…” Katanya mencoba mengelak. Badannya pun berputar sambil matanya jelalatan mencari sosok Abi Ihsan.

Segera saja para jemaah menemukan Abi Ihsan sedang berdiri rapat di belakang tiang Musola.

Wa Baong bergegas mendatangi Abi Ihsan lalu menarik tangannya menuju tempat Imam.

Abi Ihsan mengkutinya setengah terseret sambil menggerutu, “Ude ngumpet, masih juga ketahuan.”

Gerutuan itu mengundang tawa kecil Amat dan Imat. Sementara Haji Murat tidak bisa menahan diri berkomentar nyaring. “Badan segede gitu, diumpetin di belakang tiang kurus. Gimane ga ketahuan?”

Abi Ihsan mendengar komentar itu lalu menunjuk ke arah Haji Murat, “Lah, itu suara bersih kaga ada serak-seraknye!”

Haji Murat segera mengangkat tangan kanannya menutupi mulutnya. Tak lama kemudian terdengar lagi suara, “Uhuk… Uhuk… Uhuk”

-o0o-

“Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang sunnah di antara mereka. Jika dalam sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “Yang paling tua.”—“Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seizinnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Oleh Toto Abi Ihsan

adminhumaspks

Recent Posts

800 Lelaki Itu Ikut Kembara

DPDPKSKOTABEKASI - Ada pemandangan tidak biasa di halaman Gedung DPRD Kota Bekasi. Di bawah langit…

3 weeks ago

Lepas Kemah Bela Negara, Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi Titip Pesan Jaga NKRI

DPDPKSKOTABEKASI - Halaman Gedung DPRD Kota Bekasi menjadi lokasi apel pengerahan dan pelepasan peserta Kemah…

3 weeks ago

Kabar Baik PPPK Paruh Waktu, Fendaby Surya Sebut Ada Peluang Jadi PNS

DPDPKSKOTABEKASI — Anggota Komisi I DPRD Kota Bekasi, Fendaby Surya Putra, membawa angin segar bagi…

1 month ago

Dari Pegangsaan 1945 ke Hari Ini, Fendaby Surya Ingatkan Perjuangan Belum Berakhir

DPDPKSKOTABEKASI — Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di Pegangsaan Timur 56,…

1 month ago

BIPEKA PKS Kota Bekasi Luncurkan SERAMBI, Shelter Bersama Keluarga dengan Tiga Layanan Konsultasi

DPDPKSKOTABEKASI — Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPD PKS Kota Bekasi meluncurkan SERAMBI (Shelter…

1 month ago