Perspektif Ayah tentang Peran dan Tanggung Jawabnya dalam Keluarga

M. Achyar, S.Pd
Ketua DPC PKS Bantar Gebang, praktisi dan pemerhati pendidikan

Keluarga ibarat satu kendaraan yang di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak. Masing-masing memiliki hak dan kewajiban, peran dan tanggung jawab kepada keluarga.
Ayah sebagai “sopir/driver” memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam keluarga. Dalam Al-Quran, Allah swt berfirman: “ kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan , oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan). Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka (QS Annisa: 34).

Pada ayat ini secara jelas ada peran yang ditujukan kepada laki-laki (ayah) yaitu peran sebagai pemimpin dalam keluarga dan menafkahi keluarga.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori ra, Rasulullah saw bersabda: “bahwasanya setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian ayahnya yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Pertanyaannya, mengapa ayah disebut memiliki peran dan tanggung jawab yang dominan dalam keluarga? Karena, ayah punya peran dalam memberikan nilai-nilai ketaatan dalam keluarga atau bahkan bisa juga sebaliknya ayah bisa mengajarkan nilai-nilai ketidaktaatan kepada keluarganya. Di dalam Al-Quran banyak banyak berisi tentang ayah, bahkan ada surat di dalam Al-Quran yang menceritakan sosok tokoh seorang laki-laki (Lukman). Kebanyakan orang-orang hebat di masa lalu di belakang mereka ada sosok ayah, anak milik ayahnya sebagaimana nasab yang dituliskan adalah nama ayahnya. Selain itu juga ayah bisa menjadi salah satu penyebab kerusakan akhlak pada anak-anak atau keluarganya.

Selain itu juga dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya dan ayah adalah sekolahnya. Ayah sebagai “kepala sekolah” peran dan tanggung jawabnya bisa merujuk kepada Nabi Ibrahim as. Bagaimana Kholilullah memilki visi pengasuhan yang jelas untuk keluarga dan anaknya, sebagaimana tertulis di dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 35-37. “dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala (35). Ya Tuhan berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Barang siapa yang mendurhakaiku maka Engkau Maha pengampun lagi maha penyayang (36). Ya Tuhan sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat Baitullah yang dihormati. Ya Tuhan, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan Sholat maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” (37).

Dengan demikian di antara peran dan tanggung jawab ayah ialah membuat nyaman dan aman dalam keluarga: menegakkan aturan, mengevaluasi serta menentukan visi misi. Visi dan misi yang pengasuhan yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as adalah : selamat akidah keluarga dan anaknya. Terbiasakan beribadah kepada Allah Swt, mengajarkan perilaku akhlak mulia, mengajarkan life skill agar mampu bertahan hidup.
Selanjutnya yang perlu dipahami oleh ayah, bahwa anak hidup pada era yang lebih maju daripada era ayahnya. Maka peran ayah amat sangat dibutuhkan dalam sebuah keluarga. Khususnya peran dan tanggung jawab ayah kepada anak. Peran dan tanggung jawab ayah dan keluarga secara khusus Allah Swt berikan pedoman di antaranya:

Ayah sebagai pendengar yang baik

Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “wahai ayahku,sungguh aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan. Kulihat semuanya sujud kepadaku,” (QS Yusuf:4).

Ayah harus dapat menaji seorang pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Ketika anak tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan permasalah dirinya kepada sang ayah atau ayah tidak peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi anaknya, maka kemungkinan besar anak akan mencari tempat lain untuk mencurahkan isi hatinya dengan harapan didengar dan mendapatkan respons. Jangan sampai anak kita curhat tentang masalah seksual kepada orang lain yang bukan dari kalangan keluarganya. Apalagi curhat di media sosial.

Ayah sebagai pengarah (muajjih) dan nasihah yang baik

“dia (ayahnya) berkata, “wahai anakku, janganah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu. Mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan itu musuh yang jelas bagi manusia. (QS Yusuf; 5)

Setelah mendengarkan curhat atau masalah yang disampaikan anak maka selanjutnya ayah harus mampu menjadi pengarah (muwajjih dan nasihah) bagi anaknya. Hal ini dilakukan agar anak mendapatkan ketenangan dan mampu berpikir lebih dalam untuk mencari penyelesaian atas permasalahannya.

Ayah mendoakan yang baik

“mereka berkata, “wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa) (QS Yusuf: 97.
Berikutnya seorang ayah harus mendoakan anaknyaagar diampuni oleh Allah swt dan menjadi anak yang shalih.

Ayah menjadi pendidik (murobbi) yang baik

“wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Maka janganlah kamu mati dalam keadaan muslim. Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” mereka menjawab, “kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq”. (al-baqarah:132).

Ini beberapa oandangan tentangg peran dan tanggungjawab dalam keluarga yang diambil dari perspektif Al-Quran dan hadits. Dengan demikian peran ayah sangat penting, khususnya peran dan tanggung jawab ayah kepada anak. Ketika seorang ayah menjalankan peran dan kewajibannya berdasarkan nilai-nilai ketaqwaan maka insya Allah akan dapat menghantarkan keluarga yang juga menjalankan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah swt. Semoga kita para ayah dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya kepada keluarga dengan baik danoptimal berdasarkan pedoman yang ada dalam dinnul Islam. Amin.

Be the first to comment on "Perspektif Ayah tentang Peran dan Tanggung Jawabnya dalam Keluarga"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*