Peran Ayah dalam Pendidikan Keluarga

Oleh: Lely Latifah, S. Psi

Di dalam Al-Quran banyak diceritakan bagaimana seorang ayah mendidik anaknya seperti kisah Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Zakaria, Imron dan Lukman. Bahkan Al-quran mengabadikan nama keluarga Imran, Nabi Ibrahim dan Luqman sebagai nama surat. Dari semua kisah yang ada bisa diambil benang merah bahwa peran ayah atau figur ayah sangat berperan penting untuk menentukan arah pendidikan anak hingga profil apa yang hendak dibentuk.

Kita dapati kisah Maryam yang tumbuh menjadi wanita suci yang hidupnya diwakafkan untuk dakwah. Ada Nabi Ismail yang tumbuh menjadi pemuda yang siap taat dan mendukung ayahnya (karena Allah). Meski beliau baru bertemu fisik dengan ayahnya sejak beliau masih bayi atau ada pula Nabi Sulaiman yang tumbuh menjadi raja yang mempunyai kekuasaan, kebijaksanaan dan kemampuan yang luar biasa.

Di balik semua profil tersebut ada orangtua, khususnya dalam hal ini pentingnya peran ayah dalam proses pendidikannya. Mari kita lihat peran seperti apa yang dilakukan oleh para ayah tersebut:

1. Menanamkan aqidah yang lurus (salimul aqidah)

Tertulis dalam surat Luqman bagaimana pesan Luqman kepada anaknya untuk tidak menyekutukan Allah. Sejak awal ditanamkan bahwa menyekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar. Ini ajaran pertama dan utama sebelum yang lainnya. Bagaimana menanamkan hal tersebut? Dengan cara membangun ikatan hati dan jiwa yang kuat antara anak dan ayah. Lihatlah bagaimana nabi Ibrahim dengan ketaatan yang penuh kepada Allah harus mengatakan “perintah berat” dari Allah kepada puteranya, Ismail. Nabi ibrahim tidak bergaya otoriter, melainkan dialog yang beliau bangun dengan anaknya. Nabi Ibrahim menghargai hak berpikir dan berpendapat puteranya.

“wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Lalu Nabi Ismail menjawab dengan ketaatan yang penuh kepada ayahnya karenan keyakinannya kepada Allah. “wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.

Nabi Ismail telah tumbuh menjadi pemuda yang sholeh, taat kepada Allah dan sabar dalam menerima ujian sesuai dengan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim. Ya, pendekatan dialogis dan doa yang tulus telah membangun aqidah yang lurus.

2. Membangun sikap hidup yang benar

Dengann aqidah yang lurus maka terbentuklah sikap hidup yang benar. Bahwa Allah adalah hanya satu dan nomor satu dari segalanya. Sehingga tidak ada ketaatan kecuali ketaatan kepadaNya dan yang bersumber dariNya. Bahwa hanya Allahlah yang satu-satunya patut disembah dan dimintai pertolongan serta memiliki kekuasaan dan pemberi balasan.

(Luqman berkata), “wahai anakku, sungguh jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah maha halus, Maha Teliti.
Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS Luqman ayat 16-17).
Demikian yang disampaikan Luqman kepada anaknya. Menanamkan sikap ihsan, merasa selalu diawasi oleh Allah dan yakin bahwa setiap tindakan akan mendapat balasan dariNya. Selain itu diperintahkan untuk menegakkan shalat, berdakwah dan bersabar.

Ayah dapat berlajar dari konsep tersebut. Bahwa setiap perbuatan mendapat balasan dari Allah. Dalam keseharian bisa diterapkan dengan memberikan konsekuensi atas perilaku buah hati. Kegembiraan atau hadiah atas perilaku baiknya dan peringatan atau punishment atas perilaku buruknya. Lakukan dengan dasar kasih sayang dan konsisten.

Menegakkan sholat adalah hal yang sangat penting sampai-sampai Nabi Ibrahim pun berdoa meminta dirinya dan keturunannya masuk dalam golongan yang menegakkan sholat.

Bagaimana agar anak lelaki kita mencintai masjid? Tentu yang paling penting adalah ada qudwah hasanah (ayah, ajaklah putramu sholat berjamaah di mesjid). Lakukan sejak usia dini sejak ia lulus toilet trainingnya. Bangunkan ia dengan kasih sayang dan berita gembira. Jika itu sulit bangun, angkat dan gendong ia untuk berwudhu . jika masih mengantuk saat berjalan ke mesjid, gendonglah di punggung atau di pundak. Ini akan menjadi pengalamanindah di masa kecil bagi anak lelaki kita.
Rangkaian pengalaman indah dan berkesan akan terikat kuat menjadi memori dan pengetahuan di masa datang hingga menjadi pola tindakan saat ia dewasa.

3. Membangun akhlaqul karimah

“dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) . dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS Luqman: 18-19). Demikian nasihat Luqman kepad anaknya. Ayah, ajarkanlah anak-anakmu untuk rendah hati, santun, dan menghargai orang lain. Setelah anak-anak diajarkan untuk memiliki aqidah yang lurus, maka baginya tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Allah. Tidak ada ketaatan kecuali ketaan kepada Allah. Anana akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri. Ini bukan berarti ananda menjadi seorang yang “merasa paling”, dan “gak peduli lingkungan”. Pesan Luqman menegaskan hal tersebut dan Rasulullah adalh sebaik-baik teladan.

Bagaimana agar ananda percaya diri tapi tidak berbangga diri apalagi sombong? Jangan lupa pujilah Allah “maasyaa Allah abang hebat! Alhamdulillah… nilai-nilai kakak baik”

Ingatkan ananda untuk selalu bersyukur dan ajarkan bagaimana cara bersyukur yang benar dan baik. Bukan sekadar menyucap lafadz hamdallah namun juga dengan beribadah lebih baik, bersedekah, berbagi dengan saudara, dan teman atau kebaikan-kebaikan lainnya.

4. Menyiapkan bunda menjadi manajer pelaksana

Last but not least! (membantu) menyiapkan ibu dari anak-anak adalah bagian yang penting. Lihatlah bagaimana Siti Hajar harus membesarkan putranya sementara beliau jauh dari suaminya. Bagaimana Hana, ibunda Maryam mampu mewakafkan putrinya untuk mengabdi pada Allah. Semua tentu perlu persiapan.

Ayah, sebelum ajarkan ayahmu beraqidah lurus, pastikan sang bunda sudah memiliki salimul aqidah. Bangun dan jalankan visi dan misi keluarga bersama isterimu, ibu dari anak-anakmu. Yakini bersama bahwa konsep pendidikan yang akan diterapkan adalah yang paling sesuai untuk ananda dan keluarga. Buatlah bunda bahagia agar ia bisa membangun suka cita di rumah bersama ananda. Anak bahagia lahir dari orangtua yang bahagia.

Ayah, ibu bagaikan manajer dalam rumah tangga dan andalah direkturnya. Penentu kebijakan dan arahan sekaligus pemberi perlindungan. Ibu juga kunci stabilitas keluarga. Lihatlah ketikak ibu siap dan bahagia. Maka rumah pun terasa ceria. Sebaliknya jika ibu lemah dan penuh keluh kesah, maka rumah pun tanpa gairah.

Tumpahkan cinta dan kasih sayang kepada bunda, maka energi cinta dan kasih sayang akan mengalir pada ananda.

Wallahu ‘alam bishowab

Be the first to comment on "Peran Ayah dalam Pendidikan Keluarga"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*