Potret Nabi dan Salafus Shalih dalam Membersamai Anak

Oleh: Nurul Qamariyah, S.Thl
Rumah Keluarga Indonesia, kota Bekasi

Anak adalah amanah Allah. Tugas menjaga dan mendidik anak adalah kewajiban orangtua -ayah dan ibunya-. Sebagai penerima amana Allah, maka keduanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak atas amanah yang telah diberikan.

Sosok seorang ayah sangat menentukan pola asuh seorang anak. Apalagi dalam Islam seorang ayah adalah sosok Qowwaam (pemimpin) dalam keluarga. Dia akan menjadi sosok yang akan selalu menjadi perhatian bagi keluarga. Lantas bagaimana Nabi, para sahabat, salafus shalih membersamai anak mereka? Mari kita lihat cara Nabi dan Salafus shalih membersamai anak-anaknya?

1. Memberikan Keteladanan

Karena seorang ayah menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga maka keteladanan menjadi hal yang paling mendasar bagi seorang anak. Hal yang paling mendasar bagi seorang anak adalah kejujuran yang perlu ditanamkan sejak dini. dan ini perlu mendapatkan keteladanan oleh orangtua. Rasulullah bersabda “barangsiapa berkata kepada anaknya, “kemarilah nanti kuberi kemudian tidak memberi maka ia adalah pembohong,” (H.R. Ahmad dan Abu Hurairah).

Abdullah ibn Amir bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah berada di rumahnya, ibunya memanggil, “kemari, saya ingin memberimu.” “apa yang akan kamu berikan?” “saya akan memberinya kurma” jawab Ibu Abdullah. Nabi bersabda “ingat jika kamu ternyata tidak memberinya apa-apa maka kamu akan tercatat sebagai pembohong” (HR Abu Daud).
Begitupun keteladanan dalam ibadah. Peran orangtua apalagi seorang ayah akan sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap diri seorang anak. Ibnu Abbas kecil begitu terkenang saat bermalam di rumah bibinya, Maimunah. Ibnu abbas kecil melihat Nabi bangun di tengah malam kemudian berwudhu dan qiyamullail. Dia pun mengikuti apa yang dilakukan Nabi.

2. Berdialog dengan anak dan mendengarkan pendapatnya

Dalam membangun pola asuh yang baik juga penting memperhatikan metode dialog yang dilakukan. Dengan membiasakan dialog akan membantu menumbuhkan akal dan meanjamkan nalar. Dengan membiasakan dialog akan mendorong anak untuk menyampaikan pendapatnya. Dan menumbuhkan sikap berani berpikir dan bertindak.

Hal ini pernah dicontohkan oleh khalifah Umar bin Khattab ketika didatangi seseorang yang mengadukan anaknya yang durhaka dan ketika ditanyakan kepada anaknya mengapa si anak durhaka kepada orangtuanya, maka si anak bertanya balik kepada Amirul Mukminin tentang hak anak yang harus ditunaikan orangtuanya. Dan setelah tahu haknya maka anak tersebut anak itu menyatakan bahwa orangtuanya tidak menjalankan kewajibannya terhadap dia. Sehingga kemudian Umar bin Khattab bisa memberikan tindakan dan keputusan yang tepat karena mendengarkan masukan sang anak.

Hal serupa juga terjadi saat kepemimpinan Umar bin Abdul Azis. Saat khalifah menerima kunjungan masyarakat dari berbagai wilayah, dari salah satu utusan penduduk hijaz ada anak-anak yang menjadi utusan mereka dan berbicara kepada khalifah. Pada saat itu khalifah Umar bin Abdul Azis mengatakan, “biar orang yang lebih tua dari kamu yang berbicara”. Maka anak itu berkata, “wahai Amirul Mukminin kecilnya orang itu bergantung pada hati dan lisannya. Jika Allah menganugerahkan kemampuan bicara dan kekuatan hati pada seorang hamba. Maka dia berhak bicara. Wahai amirul Mukminin, jika seorang utusan ditentukan oleh umurnya, maka tentu ada orang yang lebih berhak menduduki tempat Anda sekarang dibandingkan Anda.”

3. Memberikan motivasi kepada anak

Memotivasi memberikan efek positif dalam diri anak karena akan mendorongnya menjadi manusia yang lebih baik dan maju. Hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin khattab yang mendorong anak-anak mengutarakan pendapatnya sekalipun di hadapan orang-orang tua.

4. Memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan anak

Anak-anak butuh apresiasi saat melakukan hal-hal baik (terutama yang termasuk amal shalih). Hal ini dilakukan sebagai wujud penghargaan atas pencapaian mereka melakukan hal-hal baik. Bahkan bisa mendorong mereka menjadi lebih baik.
Khatib al-Baghdadi dalam bukunya Syarfu Asha bil Hadits menceritakan bahwa An-Nadhr bin Harits pernah berkata, “aku mendengar Ibrahim bin Adham berkata, ”ayahku pernah berkata kepadaku, wahai anakku carilah hadits maka setiap kali engkau mendengar sebuah hadits dan engkau mampu menghafalnya, maka engkau berhak mendapatkan satu dirham. Maka untuk itulah aku mencari hadits.***

Be the first to comment on "Potret Nabi dan Salafus Shalih dalam Membersamai Anak"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*